BATU KECIL
Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.
Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.
Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu
lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama. Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.
Alloh kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali Alloh melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat
kepadaNya, Alloh sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.
(dari Kompilasi Materi Tarbiyah)
Dimanakah Tsa'labah Sekarang
Seorang sahabat Nabi yang amat miskin datang pada Nabi sambil mengadukan tekanan ekonomi yang dialaminya. Tsa'labah, nama sahabat tersebut, memohon Nabi untuk berdo'a supaya Allah memberikan rezeki yang banyak kepadanya.
Semula Nabi menolak permintaan tersebut sambil menasehati Tsa'labah agar meniru kehidupan Nabi saja. Namun Tsa'labah terus mendesak. Kali ini dia mengemukakan argumen yang sampai kini masih sering kita dengar, "Ya Rasul, bukankah kalau Allah memberikan kekayaan kepadaku, maka aku dapat memberikan kepada setiap orang haknya".
Nabi kemudian mendo'akan Tsa'labah. Tsa'labah mulai membeli ternak. Ternaknya berkembang pesat sehingga ia harus membangun petenakakan agak jauh dari Madinah. Seperti bisa diduga, setiap hari ia sibuk mengurus ternaknya. Ia tidak dapat lagi menghadiri shalat jama'ah bersama Rasul di siang hari. Hari-hari selanjutnya, ternaknya semakin banyak; sehingga semakin sibuk pula Tsa'labah engurusnya. Kini, ia tidak dapat lagi berjama'ah bersama Rasul. Bahkan menghadiri shalat jum'at dan shalat jenazah pun tak bisa dilakukan lagi.
Ketika turun perintah zakat, Nabi menugaskan dua orang sahabat untuk menarik zakat dari Tsa'labah. Sayang, Tsa'labah menolak mentah-mentah utusan Nabi itu. Ketika utusan Nabi datang hendak melaporkan kasus Tsa'labah ini, Nabi menyambut utusan itu dengan ucapan beliau, "Celakalah Tsa'labah!"
Nabi murka, dan Allah pun murka! Saat itu turunlah Qs at-Taubah: 75-78
"Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh."
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).
Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.
Tidaklah mereka tahu bahwasannya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasannya Allah amat mengetahui yang ghaib?"
Tsa'labah mendengar ada ayat turun mengecam dirinya, ia mulai ketakutan. Segera ia temui Nabi sambil menyerahkan zakatnya. Akan tetapi Nabi menolaknya, "Allah melarang aku menerimanya." Tsa'labah menangis tersedu-sedu. Setelah Nabi wafat, Tsa'labah menyerahkan
zakatnya kepada Abu Bakar, kemudian Umar, tetapi kedua Khalifah itu menolaknya. Tsa'labah meninggal pada masa Utsman.
Dimanakah Ts'alabah sekarang?
Jangan-jangan kitalah Tsa'labah-Tsa'labah baru yang dengan linangan air mata memohon agar rezeki Allah turun kepada kita, dan ketika rezeki itu turun, dengan sombongnya kita lupakan ayat-ayat Allah.
Bukankah kita dengan alasan sibuk berbisnis tak lagi sempat sholat lima waktu. Bukankah dengan alasan ada "meeting penting" kita lupakan perintah untuk sholat Jum'at. Bukankah ketika ada yang meminta sedekah dan zakat, kita ceramahi mereka dengan cerita bahwa harta
yang kita miliki ini hasil kerja keras, siang-malam membanting tulang; bukan turun begitu saja dari langit, lalu mengapa orang-orang mau enaknya saja minta sedekah tanpa harus kerja keras.
Kitalah Tsa'labah....Tsa'labah ternyata masih hidup dan "mazhab"-nya masih kita ikuti...
Konon, ada riwayat yang memuat saran Nabi Muhammad SAW (dan belakangan digubah menjadi puisi oleh Taufiq Ismail),
"Bersedekahlah, dan jangan tunggu satu hari nanti di saat engkau ingin bersedekah tetapi orang miskin menolaknya dan mengatakan 'kami tak butuh uangmu, yang kami butuhkan adalah darahmu'!"
Dahulu Tsa'labah menangis di depan Nabi yang tak mau menerima zakatnya. Sekarang ditengah kesenjangan sosial di negeri kita, jangan-jangan kita bukan hanya akan menangis namun berlumuran darah ketika orang miskin menolak sedekah dan zakat kita!
(dari Kompilasi Materi Tarbiyah II)
SUKSES RETAIL MUKENA DAN JILBAB DARI RUMAH
Mempunyai usaha sendiri agar bisa menambah penghasilan adalah impian bagi sebagian besar ibu rumah tangga. Akan tetapi kendala modal serta masih mempunyai tanggungan mengasuh anak menjadi kendala bagi mereka untuk mempunyai bisnis sendiri. Solusi dari itu semua adalah memulai bisnis sendiri dari rumah sehingga bisa menghemat modal awal serta masih bisa menjalankan salah satu tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan mukena dan jilbab adalah salah satu jenis produk yang memungkinkan untuk dijual di rumah.
Ada beberapa tips bagi mereka yang ingin berjualan mukena dan jilbab dari rumah.
Lokasi rumah tidak strategis
Buka usaha tidak di lokasi strategis harus diiringi dengan promosi yang gencar, agar orang-orang diseitar rumah kita tahu ada usaha yang bisa memenuhi kebutuhan mereka khususnya mukena, jilbab dll. Promosi bisa memasang pamflet kertas atau spanduk disekitar rumah. Ada juga yang lebih murah, promosi dari mulut ke mulut, ketika sedang berkumpul dalam acara pengajian, kondangan, arisan dll.
Mengelola modal yang terbatas dan sering tercampur dengan kebutuhan sehari-hari.
Ini adalah masalah klasik. Solusinya uma satu, disiplin, memisahkan uang usaha dan uang keluarga. Misalnya, kalau modal Rp 1jt untuk modal usaha, maka Rp 1 juta ini harus muter untuk modal, tidak bisa diutak-atik untuk kebutuhan lain. Kalau ada kebutuhan mendesak bisa menggunakan keuntungan dari usaha.
Lebih bagus lagi kalau ada pencatatan semua uang masuk dan keluar, utang-piutang dll.
Usahakan pembeli membeli secara cash
Mengingat keterbatasan modal, maka kita harus tegas menolak pembelian secara kredit. Berikan penawaran-penawaran menarik kalau beli secara cash. Misalnya kalau beli secara cash Rp 100.000 dapat hadiah gratis mie instan. Bisa juga memberikan potongan harga jika pembelimembeli secara cash, tentunya dalam kisaran yang aman agar margin laba tidak terlalu banyak tergerus.
Kalaupun terpaksa harus memberikan penjualan secara kredit, harus dilihat kredibiltas orangnya, sehingga tidak merepotkan kita dikemudian hari.
Jadi, bagi para pemula, dengan modal awal yang kecil serta harus memulai bisnis dari rumah bukan merupakan suatu kendala asal bisa mengelola semuanya dengan disiplin dan usah yang keras dan cerdas.